Menjadi “Tukang Kayu” Itu Harus Tekun dan Fokus

Tukang kayu atau mebel merupakan sebuah profesi yang masih tergolong sangat langka. Tidak semua orang yang bisa menekuni profesi demikian secara konsisten. Sebab selain memerlukan keterampilan (bakat) yang memadai dalam diri juga membutuhkan konsistensi yang teguh untuk menggelutinya.

Saat ini, realitas tukang kayu yang tersebar di Kecamatan Pacar hanya bisa dihitung dengan jari. Dalam arti bahwa hanya satu dua orang saja yang masih bertahan dengan profesinya sebagai tukang kayu. Semua yang memilih bertahan tersebut adalah para orang tua sedangkan anak muda atau generasi penerusnya tidak memiliki niat sama sekali untuk meneruskan profesi tersebut.

Sebagian besar mereka yang masih bertahan menjadi pengusaha tukang kayu adalah dengan membuka tempat usaha mebel sendiri di sekitar rumah. Mereka memiliki keterampilan untuk membuat perabot-perabot rumah tangga seperti: kursi, meja, lemari, tempat tidur dan lain sebagainya. 

Adapun jenis peralatan yang digunakan masih bersifat manual. Sekalipun juga sebagaian kecilnya dibantu dengan kerja mesin. Mereka bekerja dengan kemampuan yang ekstra yakni waktu dan tenaga yang adekuat untuk menghasilkan sebuah perabot yang telah dipesan oleh para pelanggan.

Dalam keseharian, mereka berkutat dengan perkakas kerja seperti siku, penggaris, meter, gergaji, pemukul, paku, vernis (cat pewarna) dan lain sebagainya. Pada umumnya mereka bekerja sesuai dengan pesanan (orderan) dari para pelanggan. Ada kalanya pesanan mereka sangat banyak dan ramai ada kalanya juga sepi, sehingga pemasukan ekonomi mereka sangat bergantung dari pesanan para pelanggan tersebut.

Sedangkan tukang kayu yang bergelut pada bidang bangunan seperti untuk membuat/menyetel rumah hanya dapat bekerja seturut permintaan. Mereka hanya bisa bekerja sewaktu-waktu, khususnya pada saat ada orang hendak mendirikan rumah baru. 

Keahlian mereka adalah menyetel rumah yang keseluruhan bahan dasarnya (kerangka) adalah dari kayu atau papan. Keterampilan mereka adalah mengukur luas, lebar dan tinggi rumah kemudian disesuaikan dengan perlengkapan yang ada yakni: kayu yang telah disediakan. Kebanyakan pekerjaan mereka tidak menetap dalam satu tempat saja. 

Melainkan selalu bergantung dengan tempat di mana pelanggan hendak mendirikan rumah baru. Demikian juga dengan pemasukan ekonomi rumah tangga mereka sangat relatif. Untuk menunjang kebutuhan pokok dalam rumah tangga, mereka tetap merangkap dengan pekerjaan lainnya yang produktif.

Sekalipun demikian, entah sebagai pengusaha mebel atau sebagai tukang banguan (rumah), mereka tetap konsisten dengan profesinya masing-masing. Bagi mereka yang terpenting adalah memanfaatkan keterampilan dan skill yang mereka miliki itu agar tetap terjaga dan produktif.

Bagi om Adi salah satu pengusaha mebel yang ada di Herang — Pacar, Manggarai Barat: bahwa profesi sebagai tukang kayu merupakan suatu keterampilan khusus yang tidak semua orang memilikinya.

Dalam obrolan singkat bersamanya, beliau menambahkan bahwa: yang paling pertama dilakukan adalah memiliki niat kemudian ditekuni dengan kesungguhan untuk berguru pada orang yang lebih mengetahui dengan pekerjaan mebel.

Beliau menceritakan bahwa, seperti beliau sendiri pada awalnya belajar dengan om Pit (salah satu tukang senior di Herang – Pacar). Dia hanya memerlukan tempo waktu 3 bulan untuk sekedar belajar dan mendalami bidang pertukangan bersama dengan sang gurunya itu.

Foto: om Pit | dokpri

Foto: om Pit | dokpriSetelah melewati masa belajar kurang lebih tiga bulan tersebut, beliau sudah mampu untuk mandiri dalam membuat perabot-perabot mebel yang dilimpahkan kepadanya. Namun, sambil tetap pada bimbingan dari sang gurunya kala itu.

Karena adanya niat yang teguh untuk belajar, fokus untuk berlatih dan tetap konsisten untuk bergelut dengan mebel, om Adi kini telah menjadi salah satu penerus dari usaha bengkel kayu milik “sang mentor”-nya yakni om Pit di Herang- Pacar, Manggarai Barat. 

Kini ia telah mampu membuat sebuah perabot pesanan pelanggan seperti lemari dalam tempo tiga hari. Dan telah banyak perabot-perabot lainnya yang telah dikerjakan olehnya hingga tersebar sampai keluar daerah.

Foto: bingkai Jendela karya om Adi | dokpri

Foto: bingkai Jendela karya om Adi | dokpriTantangan 

Namun sekalipun beliau kini boleh dikatakan sukses, masih ada kesulitan yang selalu menjadi tantangan selama menggeluti pekerjaannya seperti: kesulitan untuk mendapatkan pasokan kayu-kayu (berjenis papan) yang kering sebagai bahan utama. 

Kemudian, sebagian besar proses pengerjaannya masih bersistem manual sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk menyelesaikannya. Ia membandingkannya dengan bengkel-bengkel besar yang segalanya cepat dan mudah karena peralatan mesin yang memadai.

Kesulitan lainnya yang paling diresahkannya adalah sulitnya untuk menggaet tenaga-tenaga muda untuk menggeluti profesi sebagai tukang kayu. Baginya; sebagian besar anak muda sekarang tidak memiliki minat untuk belajar menjadi tukang kayu. 

Dalam pengalaman sebelumnya bahwa ada orang yang bekerja, namun orientasinya hanya sekedar untuk mendapatkan upah dalam bentuk uang. Sedangkan niat untuk belajar sama sekali tidak ada. Sehingga mereka hanya bekerja sesaat saja dan kemudian berhenti (setelah mendapatkan uang). Kesulitan demikian sungguh memilukan terutama demi kemajuan usaha bengkel kayu ke depannya.

Harapan ke Depannya

Menyadari bahwa profesi sebagai tukang kayu merupakan sebuah profesi khusus bagi orang-orang yang memiliki keterampilan dalam bidang mebel. Sebagaimana yang om Adi katakan bahwa semua orang bisa saja untuk berprofesi lain seperti petani, pegawai, pejabat pemerintah dan lain sebagainya. Namun menjadi seorang tukang kayu hanya bagi segelintir orang saja yang berketerampilan khusus di dalamnya. 

Untuk itu, beliau mengharapkan agar kedepannya sudah ada generasi atau benih baru yang sungguh-sungguh berniat untuk belajar dan menggeluti bidang mebel. Sebab menurutnya, negara ini sesungguhnya hanya milik orang yang ingin belajar dan mau berwirausaha terutama dalam bidang mebel. Maka menjadi tukang kayu adalah pilihan bagi orang yang menginginkan perubahan.

Sumber : https://www.kompasiana.com/amandconstantino8623/5e2025d0d541df15af204ea4/menjadi-tukang-kayu-itu-harus-tekun-dan-fokus?page=all#section2