Memahami Istilah Olahraga Profesional di Indonesia

Secara universal dunia olahraga mengenal dua jalur pencapaian prestasi, yaitu amatir dan profesional. Keduanya bagai dua sisi mata uang, berbeda namun saling melekat. Apa yang membedakan keduanya?

Secara harfiah istilah keduanya mempenyai arti yang sangat berbeda. Arti kata amatir berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah. Sementara, profesional adalah suatu hal yang bersangkutan dengan profesi dan mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.

Definisi tersebut sejalan dengan batasan yang diatur oleh UU No 3 tahun Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Pada pasal 1 UU itu dijelaskan olahraga amatir adalah olahraga yang dilakukan atas dasar kecintaan atau kegemaran berolahraga. Sementara, olahraga profesional adalah olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain.

Ditinjau dari aspek tujuannya, olahraga amatir bertujuan membimbing atlet mencapai prestasi tertinggi. Menjadi juara adalah tujuan utama olahraga amatir. Peserta olahraga amatir di bawah bimbingan pelatih selalu mengutamakan pencapaian prestasi maksimal. Olahraga amatir mendapat dukungan dari pemerintah dan memperoleh bantuan keuangan negara.

Sementara, olahraga profesional adalah olahraga bertujuan komersial yang menekankan pada unsur hiburan dan menyediakan hadiah uang bagi sang juara. Peserta boleh didukung perusahaan-perusahaan swasta. Berolahraga adalah pekerjaan utama atlet profesional. Penonton adalah faktor penting dalam olahraga profesional sebab penjualan tiket pertandingan amat mempengaruhi bisnis ini. Bahkan, pada prakteknya beberapa cabang olahraga profesional sebagai subsistem telah tumbuh menjadi industri yang menggiurkan.

Dewasa ini, pada beberapa cabang olahraga, jalur profesional telah menjadi suatu bisnis yang menghasilkan uang jutaan dolar. Sebut saja sepak bola, tenis, golf, basket, tinju dan bulutangkis telah menjelma menjadi suatu industri yang menjanjikan penghasilan spektakuler. Profesi olah raga bisa menjadi pintu masuk untuk menjadi milyuner.

Siapa yang tak kenal dengan sosok Christiano Ronaldo yang berpenghasilan 10 juta Euro (124 milyar) per tahun. Atau, petinju asal Filipina, Manny Pacquiao yang berpenghasilan US$ 85 juta atau Rp 799 miliar untuk dua pertarungan pada tahun  lalu.

Di Indonesia, geliat olahraga profesional pun tak ketinggalan. Publik sempat terpesona dengan atlet sepakbola Bambang Pamungkas, yang penghasilannya sempat menembus angka Rp 1,1 milyar per tahun. Sehingga, sangat wajar bila akhirnya bila jalur profesional menjadi tujuan akhir para atlet beberapa cabang olahraga.

Batasan Kualifikasi

Dalam dunia olah raga, batasan amatir dan profesional sempat menjadi batu ganjalan, khususnya dalam pelaksanaan olimpiade. Awalnya, olimpiade hanya diperuntukan untuk atlet amatir yang tidak mencari nafkah melalui kemahiran olahraga.

Akibat friksi pandangan mengenai batasan amatir dan profesional ini, cabang olahraga tenis sempat didepak dari olimpiade mulai tahun 1928. Namun,  akhirnya diterima kembali menjadi cabang olimpiade secara resmi pada Olimpiade Seoul 1988.

Seiring dengan perkembangan zaman, batasan antara olahraga amatir dan profesional menjadi semakin tipis. Meskipun demikian, batasan itu tetap ada. Misalnya, pemain sepakbola profesional boleh bertanding di kejuaraan amatir. Namun, jumlah pemain setiap tim yang berusia di atas 23 tahun dibatasi hingga hanya menjadi tiga orang saja untuk setiap tim.

Memang, tidak semua cabang olahraga memberikan batasan yang rigid mengenai kualifikasi pemain profesional dan amatir yang akan ikut dalam suatu pertandingan. Tapi, ada juga cabang olahraga yang telah memberikan batasan yang pasti. Seperti pada cabang tinju, organisasi dunia yang menaungi olah raga itu sudah menetapkan batasan yang jelas dan praktis. Seorang petinju yang telah naik kelas di ring profesional, tidak boleh lagi bertanding pada event amatir.

Hal yang sama juga terjadi pada olahraga golf. R&A Rules Limited dan The United States Golf Association menetapkan aturan status atlet amatir dan profesional dengan sangat ketat. Atlet golf amatir tidak diperkenankan menerima hadiah dalam bentuk keuntungan finansial.

Pengaturan Pelaku Olahraga Profesional

Batasan pelaku olahraga kedua jenjang ini juga telah diatur secara jelas dan tegas. Pasal 55 UU SKN menegaskan, setiap orang dapat menjadi olahragawan profesional setelah memenuhi persyaratan:

  1. Pernah menjadi olahragawan amatir yang mengikuti kompetisi secara periodik;
  2. Memenuhi ketentuan ketenagakerjaan yang dipersyaratkan;
  3. Memenuhi ketentuan medis yang dipersyaratkan; dan
  4. Memperoleh pernyataan tertulis tentang pelepasan status dari olahragawan amatir
  5. Menjadi olahragawan profesional yang diketahui oleh induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan.

Pengaturan ini dilakukan secara jelas untuk melindungi setiap olahragawan profesional. Sehingga, dalam melaksanakan profesinya, olahragawan profesional harus membuat perjanjian berupa kontrak kerja. Tujuannya agar haknya terkait masalah pendapatan, kesehatan, manajemen, pelatihan dan hukum yang layak dapat dilindungi.

Sementara itu, Alih status olahragawan amatir menjadi olahragawan profesional secara lebih rinci diatur dalam Pasal 57 PP Penyelenggaraan Keolahragaan. Yaitu wajib memenuhi persyaratan:

  1. Memenuhi batasan usia sesuai ketentuan induk organisasi cabang olahraga atau federasi olahraga internasional;
  2. Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani berdasarkan keterangan dokter yang ditunjuk oleh Badan Olahraga Profesional;
  3. Pernah menjadi anggota perkumpulan olahraga amatir;
  4. Pernah mewakili Indonesia dalam Olimpiade, Pekan Olahraga Internasional Tingkat Asia (Asian Games), Pekan Olahraga Internasional Tingkat Asia Tenggara (South East Asian Games), kejuaraan olahraga tingkat dunia/internasional, menjadi juara nasional, atau menjadi juara tingkat provinsi; dan
  5. Mendapat rekomendasi dari induk organisasi cabang olahraga.

Pembinaan Olahraga

Apapun kualifikasinya, pada dasarnya target pencapaian olahraga adalah prestasi. Jenjang amatir merupakan pintu masuk dari ajang peningkatan prestasi selanjutnya pada jenjang profesional. Pasal 27 UU SKN menegaskan  pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan serta diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga. Baik pada tingkat daerah, nasional, dan internasional.

Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi ini dilakukan oleh induk organisasi cabang olahraga, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah. Dan,  dilakukan oleh pelatih yang memiliki kualifikasi dan sertifikat kompetensi yang jelas dan telah ditentukan oleh masing-masing induk organisasi.

Mekanisme kerjanya dengan memberdayakan perkumpulan olahraga, serta menumbuhkembangkan sentra pembinaan olahraga baik dalam skala nasional maupun daerah. Upaya itu dilakukan dengan menyelenggarakan kompetisi secara berjenjang dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan melibatkan olahragawan muda potensial berdasarkan hasil pemantauan, pemanduan, dan pengembangan bakat sebagai proses regenerasi. Lalu apakah yang dimaksud dengan induk organisasi cabang olah raga?

Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Olah Raga sebagai petunjuk pelaksanaan UU SKN memberikan definisi yang jelas mengenai  induk organisasi cabang olahraga. Yaitu, organisasi olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengoordinasikan satu cabang atau gabungan organisasi cabang olahraga dari satu jenis olahraga, dan merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional yang bersangkutan.

Berikut adalah contoh beberapa Induk Organisasi Cabang Olahraga yang merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional :

  1. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) merupakan anggota federasi cabang olahraga sepakbola internasional yaitu Fédération Internationale de Football Association (FIFA).
  2. Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) merupakan anggota federasi cabang olahraga bulutangkis internasional yaitu International Badminton Federation (IBF) yang sekarang bernama Badminton World Federation (BWF)
  3. Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) merupakan anggota federasi cabang olahraga bola basket internasional yaitu Fédération Internationale de Basketball (FIBA)
  4. Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) merupakan anggota Federasi Renang Internasional (Fédération Internationale de Natation, disingkat FINA)
  5. Persatuan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI ) merupakan anggota Federasi Anggar Internasional(Fédération Internationale d’Escrime).
  6. Taekwondo Indonesia, merupakan anggota dari World Taekwondo Federation (WTF).

Dengan demikian, pembinaan mengenai atlet, wasit, dan berbagai aspeknya, masih berada di tangan organisasi induk olahraga masing-masing. Sebagai misal, dalam cabang taekwondo pengelolaan Ujian Kenaikan Tingkat dan akreditasi wasit, merupakan kewenangan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) sebagai induk olahraga yang diakui secara sah oleh negara dan juga merupakan anggota federasi olahraga internasional.  

Untuk pembinaan olahraga amatir sudah jelas siapa penanggungjawabnya, yaitu masing-masing organisasi induk olahraga. Lalu bagaimana dengan pembinaan olahraga profesional?

UU SKN dan PP tentang Penyelenggaraan Keolahragaan pun telah mengaturnya dengan sangat jelas. Pembinaan dan pengembangan olahraga profesional dilakukan oleh induk organisasi cabang olahraga atau organisasi olahraga profesional, bisa secara bersama-sama atau terpisah. Dengan tujuan untuk terciptanya prestasi olahraga, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan.

            Tentunya, pola pembinaan ini diselaraskan dengan ketentuan federasi cabang olahraga internasional masing-masing. Tidak semua cabang membentuk sendiri wadah organisasi profesionalnya sendiri. Pada cabang bulutangkis misalnya, pembinaan kedua jenjang tetap dikendalikan oleh PBSI. Meskipun demikian, beberapa cabang, organisasi olahraga profesional di Indonesia telah terbentuk, misalnya Persatuan Golf Profesional Indonesia (PGPI) dan Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI).

      Selain itu, UU SKN dan turunannya telah menunjuk penanggungjawab pembinaan, pengembangan, pengawasan dan pengendalian olahraga profesional adalah Menteri Pemuda dan Olahraga. Tugasnya itu dibantu oleh Badan Olahraga Profesional (BOPI).

Tugas BOPI sendiri diatur pada Pasal 37 ayat (3) PP No. 16/2007 tersebut yaitu sebagai berikut:

  1. Menetapkan kebijakan pembinaan dan pengembangan serta pengawasan dan pengendalian olahraga profesional;
  2. Melakukan pembinaan dan pengembangan serta pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan kegiatan olahraga profesional;
  3. Melakukan pengkajian dan pengembangan sistem pembinaan dan pengembangan serta pengawasan dan pengendalian olahraga profesional; dan
  4. Menetapkan standar, norma, prosedur, dan kriteria pembinaan dan pengembangan serta pengawasan dan pengendalian olahraga profesional.

Bila merujuk pada ketentuan ini, fungsi BOPI sudah sangat jelas yaitu diarahkan untuk membina, mengembangkan dan mengawasi subsistem keolahragaan, yaitu industri olahraga itu sendiri sebagai muara dari olahraga profesional. Tujuannya, agar hak atlet dan spirit olahraga tidak dirugikan serta terkontamisani secara negatif oleh kepentingan bisnis. Mengingat, industri olahraga sangat kompleks dan mempunyai keterkaitan dengan berbagai pihak, namun dengan kepentingan yang sama, yaitu keuntungan finansial.

Namun, pada prakteknya dalam beberapa kasus terjadi friksi antara induk organisasi cabang olahraga dengan pihak BOPI. Hal ini tidak terlepas dari pemahaman yang keliru dalam menafsirkan peraturan.

Bila merujuk pada ketentuan peraturan perundangan, dalam konteks pembinaan olahraga secara umum, kewenangan utama pada dasarnya tetap berada pada induk cabang olahraga masing-masing.

Berdasarkan hirarki perundang-undangan kedudukan BOPI posisinya lebih rendah dari organisasi induk cabang olahraga. Mengingat, organisasi induk cabang olahraga diatur dalam ketentuan UU SKN, sementara BOPI diatur dalam PP, yang pembentukannya dilaksanakan melalui Peraturan Menteri.

Ketentuan perundang-undangan sudah jelas menegaskan, bahwa seluruh organisasi olahraga yang telah memenuhi persyaratan standar organisasi olahraga harus sudah menyesuaikan ketentuan ini. Dengan tujuan untuk memelihara kesinambungan dan mencegah timbulnya lingkungan yang menghambat proses pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi.

Jika dibandingkan dengan negara maju, industri olahraga nasional memang masih kalah jauh. Namun potensi untuk berkembang maju sangat pesat, mengingat potensi pasar yang sangat besar. Memang tidak mudah untuk membangun industri olahraga yang mumpuni. Kesiapan infrastruktur, investor dan keberadaan pihak sponsor sangat menentukan dalam industri olahraga.

Dalam konteks ini, beberapa cabang olah raga di dalam negeri sudah mulai memasuki fase industri olahraga.  Seperti sepakbola, bulu tangkis, tinju, dan bola basket. Namun secara faktual masih meretas jalan yang berliku. Mengingat, jenjang olah raga ini sangat bergantung pada frekwensi liga pertandingan, jumlah penonton, dan yang paling utama adalah investor dan sponsor. Tanpa penonton, maka tidak akan ada liga kejuaraan. Tanpa liga, maka sponsor dan investor pun enggan masuk. Tanpa sponsor, maka tak ada income untuk membayar atlet.  Lalu, bagaimana dengan organisasi taekwondo profesional ? *) MS-TIN

Sumber : https://taekwondoindonesianews.wordpress.com/2013/07/10/memahami-istilah-olahraga-profesional-di-indonesia/