Jenis-Jenis Welding (Pengelasan) dan Risikonya

Dalam membuat rangka besi umumnya dibutuhkan proses welding (pengelasan). Welding ini banyak digunakan pada pekerjaan konstruksi, seperti untuk konstruksi kapal laut, jembatan, pembuatan sistem plumbing, rel kereta api, dan berbagai bangunan dengan rangka baja lainnya. 

Semua itu butuh teknik welding yang menyambungkan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dimana teknologinya saat ini semakin berkembang seiring dengan perkembangan dunia konstruksi.

Apa itu Welding?

Welding atau pengelasan adalah suatu proses cara untuk menyambung dua logam menjadi satu dengan jalan mencairkannya melalui pemanasan. 

Energi panas diperlukan untuk mencairkan bahan bakar yang akan disambungkan dari kawat las sebagai bahan pengisi. Setelah mencair dan melekat, kemudian bahan bakar tersebut dingin dan membeku, dan akhirnya terbentuklah ikatan yang kuat antar logam dan bersifat permanen.

Jenis-jenis Welding (Pengelasan)

1. Las Listrik
Las busur listrik atau dikenal juga dengan sebutan las listrik adalah proses pengelasan atau penyambungan logam dengan menggunakan energi listrik sebagai sumber panas. Berikut ini beberapa jenis las Iistrik yang dapat diaplikasikan oleh welder, yaitu:

  • Las Tahanan Listrik (Las Busur)

Pada jenis las listrik ini, seorang welder melakukan proses pengelasan dengan cara mengelas benda kerja dengan menggunakan tahanan (hambatan) listrik yang terjadi.
Prinsip dari las tahanan listrik ini adalah dengan menyambungkan dua bagian logam atau lebih dengan jalan pelelehan dengan busur listrik. Welder harsu mengkaitkan busur nyala tersebut dengan cara  mendekatkan elektroda las benda kerja pada jarak beberapa milimeter. 
Untuk memperoleh busur nyala, welder menyentuhkan elektroda dengan benda kerja yang akan dilas. Sebelumnya harus sudah dipastikan dahulu bahwa ada arus listrik yang mengalir ke elektroda dan benda kerja. 
Dalam proses welding ini, pengelas menarik sedikit demi sedikit elektroda untuk menjauhi benda kerja yang di las. Jarak antara elektroda dan benda kerja inilah yang disebut pdengan anjang busur nyala. Dengan suhu busurnya yang mencapai sekitar 3800°C menyebabkan elektroda dan logam meleleh sehingga menghasilkan ikatan yang kuat dan permanen antar logam yang dilas.

  • Las Busur dengan Elektroda Berselaput Fluks

Las busur dengan elektroda berselaput fluks ini lebih banyak digunakan di masyarakat. Busur listrik yang terjadi ketika proses pengelasan akan mencairkan elektroda dan sebagian besar bahan bakar selaput elektroda yang terbakar. 

Dari proses inilah kemudian bahan bakar mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda, kawat las, busur listrik, dan juga area pengelasan di sekitar busur listrik dari pengaruh udara luar karena proses oksidasi.

  • Las Busur gas TIG (Tungsten Inert Gas)

Pada jenis las busur gas TIG ini, welder menggunakan elektroda wolfram yang tidak berfungsi sebagai bahan tambah. Busur listrik dengan sumber panas 3800°C dihasilkan dari ujung elektroda wolfram dan bahan dasarnya.
Sebagai bahan tambah, welder dapat menggunakan kawat listrik tanpa selaput yang digerakan dan didekatkan ke busur listrik yang dihasilkan dari elektroda wolfram dan bahan dasar.

  • Las Busur Gas MIG (Metal Inert Gas)

Pada proses pengelasan jenis las busur gas MIG ini, welder menggunakan kawat las yang sekaligus berfungsi sebagai elektroda. Kawat las tersebut terbuat dari gulungan kawat yang gerakannya dapat diukur oleh motor listrik.
Jenis las ini banyak digunakan untuk mengelas alumunium dan baja tahan karat. Welder dapat menggunakan gas inert, yaitu argon atau campuran argon-helium.
2. Las Karbit
Las karbit adalah proses pengelasan dengan menggunakan media gas karbit atau gas asetilen sebagai bahan bakar.
Prinsip kerjanya adalah dengan cara membakar bahan bakar gas dengan oksigen sehingga akan menimbulkan nyala api dengan suhu tertentu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. 
Las karbit dengan menggunakan gas asetilen ini dapat diaplikasikan di outdoor (lapangan) karena tidak memerlukan listrik dalam pengoperasiannya. 
Namun, pekerjaan pengelasan jenis las karbit ini dibutuhkan perangkat perbengkelan yang digunakan untuk memotong dan menyambung benda kerja seperti plat besi dan pipa.

Risiko Proses Welding

Risiko dalam pekerjaan tentunya ada, termasuk ketika dalam proses welding. Welder (pekerja pengelas) sebagai pelaksana memiliki risiko fisik yang sangat tinggi dalam pengerjaan pengelasan. Mereka yang bekerja memerlukan keahlian serta peralatan khusus agar tidak mengalami kecelakaan kerja.

Pada saat proses welding las listrik banyak risiko yang mungkin saja membahayakan baik bagi pekerja pengelas, alat atau mesin las listrik, dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karenanya, para pekerja perlu memperhatikan tiga hal berikut ini, yaitu:

  1. Percikan bunga api dari hasil pemanasan dapat membahayakan baik bagi welder maupun mesin las listrik itu sendiri. Percikan bunga api tersebut dapat mengenai kulit, mata dan masuk ke dalam perangkat mesin las listrik, yang semua itu akan mengganggu berjalannya proses pengerjaan pengelasan.
  2. Las listrik menghasilkan asap dan debu beracun yang dapat membahayakan welder dan orang di sekelilingnya. Asap tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan pernapasan.
  3. Las listrik menghasilkan efek radiasi sinar ultra violet dan inframerah yang dapat membahayakan kesehatan mata dan organ dalam tubuh welder dan orang-orang di sekelilingnya.

Itulah ulasan mengenai pengertian welding (pengelasan), jenis-jenisnya, dan risiko kecelakaan kerja dalam proses welding. Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.pengadaan.web.id/2020/12/welding-pengelasan.html